Senin, 30 September 2013

ATUR LIBIDO DENGAN AKUPUNKTUR

Memelihara gairah seks itu bak menghadapi harta. Kekurangan jadi susah, kelebihan malah bikin repot. Mesti pas. Tusuk jarum alias akupunktur jadi salah satu tawaran jalan keluar menetralkan.            
 
Sekitar 10% pasien yang datang ke klinik akupunktur mengeluhkan soal seks. Dari 10% itu, 70%-nya pria. Wanita lebih tertutup, dan keluhannya biasanya baru keluar setelah jalan memutar, setelah merasa nyaman dengan ahli akupunktur yang bersikap seperti teman.

Pasien yang datang statusnya lajang dan berumah tangga. Bagi lajang pria dan wanita, baik yang mematuhi norma tiada seks sebelum pernikahan, maupun penganut kehidupan seks bebas, permintaannya senada: tolong redakan gejolak seks saya. Sementara bagi yang sudah menikah, pada 90% pria dan 60% wanita, mereka ingin gairah seksnya ditingkatkan.
 
Meski keluhannya senada, penanganannya sangat individual, tergantung pemicu masalah. Apakah karena masalah fisik, psikis, atau hal lain yang tak disadari pasien yang harus digali ahli akupunktur sebelum bertindak.
 
Dilihat per individu
Pasien pria menikah yang datang rata-rata berusia 35-60 tahun. Umumnya datang dengan tiga corak keluhan. Pertama, tak berdaya alias impoten, yang terbagi lagi menjadi dua kasus. Ada yang tak berdaya primer, sama sekali tak bergairah dan tak bisa melakukan hubungan seks dengan siapa pun. Ada pula yang partial, "Dengan istri sendiri tak bisa, tapi dengan TTM (teman tapi mesra) kok tak ada masalah! Artinya, ini soal psikis".
 
Kedua, terlalu cepat keluar, yang lebih dikenal sebagai ejakulasi dini. Ketiga, seminal emission alias encer mani. Dari ketiga keluhan, ejakulasi dinilah kasus terbanyak. Penyembuhan ala akupunktur bukanlah sekedar mengatasi gejala, atau 'tembak langsung' ke bagian yang memunculkan nyeri dan keluhan lainnya. Penanganannya seperti pola hidup, yin yang, hitam putih. Di hitam ada putih dan sebaliknya. Seimbang. Kalau tak seimbang, jadi keluhan dan penyakit. Jadi, "Prinsip akupunktur itu Ping Pu Ping Xie, menormalkan, menetralkan seperti prinsip yin yang".
 
Masalah seksual tentunya berhubungan dengan organ peranakan (reproduksi). Dalam pandangan akupunktur, organ ginjal berhubungan dengan energi, jantung dengan konsentrasi, dan hati dengan stamina. Misalnya bila ginjal terganggu, pria tak bisa ereksi, wanita tak bisa orgasme. Bila hati sedang bermasalah, stamina tubuh menurun, otomatis saat berhubungan seks pun takkan maksimal.
 
Jadi, dalam menangani pasien, ahli akupunktur akan melihat kasusnya per individu, keluhan utama dan akar masalahnya. Sekali lagi, akupunktur mengatasi secara keseluruhan, bukan sebagian atau kulit luarnya saja. Kondisi pasien didapat dari tiga tahap pemeriksaan. Pertama, wawancara. Kedua, observasi berupa pengamatan akan fisik pasien (pucat, kuyu), pendengaran (apakah berfungsi baik), suara (serak, lantang), penciuman (bau badan normal atau tidak), dan apakah pasien menderita batuk, sesak napas, atau gangguan lain. Ketiga, diagnosis.
 
Dari ketiga tahap ini dapat diambil kesimpulan untuk menyusun rencana penanganan penyembuhan. Paket standar akupunktur adalah datang dan ditangani 12 kali, seminggu dua kali, "Jadi akan selesai dalam 1,5 bulan". Karena prinsipnya menyeimbangkan, dilakukan manipulasi jarum untuk tonifikasi (menguatkan) dan sedasi (melemahkan). Pada tonifikasi, penusukan searah jarum jam dan waktunya lebih cepat, kurang dari 15 menit. Sedangkan sedasi penusukannya berlawanan arah dengan jarum jam dengan durasi lebih dari 15 menit. Semuanya dilihat per kasus, rata-rata 15-20 menit dengan jarum terhalus 0,18x7 mm.

Titik-titik akupunktur untuk penanganan masalah seksual ada di telinga, tangan, kaki, dan perut. Jadi, jangan khawatir bakal ditusuk di sekitar alat vital. Sekali lagi, penusukan tergantung kasusnya. Telinga misalnya, bak termostat tubuh manusia yang jadi komando dan pengendali hormon tubuh. Di sini ada titik endokrin, adrenal pengatur stress dan mood (suasana hati), kortisol pengatur stress pada pria dan wanita, titik rahim dan indung telur (wanita), prostat, testis (pria).
 
Yang tak kalah penting, di telinga ada titik shenmen yang berarti pintu jiwa, api jantung. Artinya, menetralkan, menyeimbangkan agar tenang. Bila kelenjar endokrin tak seimbang akan terjadi gangguan kelebihan atau kekurangan, termasuk mengatur hormon seks pria wanita. Kalau endokrin bagus, hormon stress turun lagi.     
 
Pasangan pun mesti diajak
Ambil contoh kasus ejakulasi dini. Biarpun masalahnya serupa, penanganan pada tiap orang berbeda. Kasus pertama, pasien ternyata juga menderita kolesterol tinggi, jantung koroner, dan obesitas. Yang harus dilakukan adalah mengatasi keluhan dasar itu. Kalau sudah teratasi, biasanya otomatis soal ejakulasi dininya pun menghilang. Penanganannya rata-rata seminggu dua kali, selama 2-3 bulan. Makin muda makin cepat teratasi. 
 
Pada kasus kedua, tiada keluhan fisik. Usia lumayan muda, kurang dari 40, baru menikah. Penyebabnya ternyata faktor psikis, bukan masalah di organ vitalnya. Si suami yang berusia 31 tahun selalu ribut dengan istri yang baru 23 tahun karena ejakulasi dini. Akar masalahnya, ternyata si suami terlalu heboh, tak bisa konsentrasi plus terlalu lelah bekerja. Sementara istrinya ibu rumah tangga biasa berpendidikan kurang, tak mau tahu, pokoknya harus puas. Penyebab ejakulasi dininya karena api jantungnya terlalu berkobar. Belum masuk sudah keluar. Susah konsentrasi, pengendalian diri kurang, antara otak dan organ vital tak selaras.
 
Jadi, yang dilakukan adalah, pertama, menetralkan, bukan memadamkan, api jantungnya agar tak berkobar-kobar. Kedua, menguatkan staminanya karena lelah fisik akibat kerja dan tuntutan istri yang tak mau memahami. Ditusuk di tangan dan kaki. Setelah diterapi 10 kali, hasilnya sudah bisa lebih lama. Misalnya saat terapi enam kali, bisa masuk, ereksi, sebentar, kurang dari 1 menit. Untuk menunjang kebugaran, si suami disarankan juga untuk olah raga jalan kaki agar bisa bernapas panjang.
 
Kasus lain adalah soal libido alias gairah seks terlalu tinggi atau rendah. Ada pasien 42 tahun, pengusaha yang rajin olah raga lari pagi. Segar bugar. Tapi sang istrilah yang mengeluh dan membawa suaminya ke ahli akupunktur, karena kewalahan memenuhi permintaan suaminya berhubungan seks hampir tiap hari. Setelah digali, ternyata si suami senang makan kambing dan pengunjung setia situs porno, walau ini lebih sebagai sugesti saja.
 
Sang istri yang berusia 30 tahun, termasuk gemuk. Jadi pada kasus ini penanganan bukan hanya ke suami, tapi juga ke istri. Sebab istri yang kegemukan cenderung lungkrah, tak bugar, otomatis gairah bercinta pun rendah. Sementara sang suami dengan olah raga teratur bertahun-tahun, staminanya baik, napas bagus, testosteron alias hormon seksualnya juga bagus. Dengan akupunktur, gairah seksualnya dinetralkan. Supaya api jantungnya tak berkobar, hormonnya diseimbangkan, dilakukan penusukan di telinga, tangan, dan kaki. Juga diingatkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kegemarannya berkunjung ke situs porno untuk menghindari perangsang. Istrinya dinaikkan gairah seksualnya seiring dengan saran untuk mengatasi kelebihan berat badannya.
 
Masalah seks pada wanita rata-rata menimpa yang berusia 30-50 tahun. Umumnya ada tiga ragam masalah. Pertama, frigid (dingin) karena faktor psikis. Misalnya trauma malam pertama yang tak menyenangkan. Jadi, setiap diajak berhubungan seks sudah menolak dulu. Kedua, kelainan organ, misalnya vagina tak lentur hingga nyeri tiap kali berhubungan, dan akhirnya malas berhubungan. Ketiga, dymenorhea alias nyeri haid yang memicu frigid, nyeri, dan enggan berhubungan seks. 
 
Untuk kasus psikis, prinsipnya bikin rileks, peredaran darah lancar dan tenang. Ditusuk di tangan, kaki, telinga. Yang terpenting, "Ubah mindset, bahwa orangnya sendiri yang harus memahami". Untuk kasus kelainan organ, prinsipnya dilenturkan, hormon dirangsang untuk mengeluarkan pelumas lebih banyak, ditusuk di tangan, kaki, telinga. Semuanya dengan rata-rata paket 12 kali kunjungan.  
 
Lajang pun 'tenang'
Lajang punya kekhasan sendiri mengatasi pemenuhan kebutuhan seksualnya. Pasien pria biasanya berusia 25-40 tahun. Kebanyakan punya kebiasaan onani. Yang kalau terlalu sering, bisa bikin masalah juga.
 
Saran untuk mereka, berpikirlah positif, salurkan hobi dan energi, dan jangan mengarah ke hal-hal yang merangsang libido (video porno atau situs-situs porno). Olah raga pun mesti seimbang, jangan sampai karena berniat menghilangkan dorongan seksual, berlatih berlebihan sampai tak berdaya. Yang pas itu 3-5 kali seminggu, masing-masing 30-60 menit. Jangan merapel olah raga di satu waktu, misalnya sekali latihan empat jam seminggu sekali dengan treadmill, berenang, aerobic, dan angkat beban. Badan akan seperti remuk.
 
Karena pria tak punya siklus hormon tertentu, jadi tiap kali merasa 'kewalahan' mereka memulai paket 12 kali penusukan di tangan, kaki, badan, telinga. Umumnya dua kali seminggu, tapi bila dirasa sudah mereda, bisa diperjarang jadi seminggu sekali.
 
Pada wanita ada kasus lajang 42 tahun yang memang bertekad tak mau terikat tali pernikahan tapi suka 'jajan'. Masalahnya, ia kemudian mengeluh, bila senam atau olah raga tak keluar keringat. Ia pun punya kebiasaan merokok dan minuman beralkohol. Penanganan untuknya adalah dinetralkan seminggu sekali agar tenang.
 
Penanganan pada wanita harus melihat siklus haidnya. Umumnya libido tinggi sebelum dan sesudah haid, tapi kebanyakan sesudah haid pada masa subur 14-21 hari. Disarankan diakupunktur sebelum pelepasan sel telur, 1-2 hari sesudah haid, atau 1-2 hari sebelum ovulasi (rata-rata terjadi seminggu setelah hari terakhir haid). Pas haid pun tak ada larangan.
 
#http://terapiakupunkturmedan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar